Bimo Prasetio

Bimo Prasetio – Spesialis atau Generalis ?

Bimo Prasetio – Spesialis atau Generalis ? Banyak yang merasa bahwa dengan menjadi ahli di segala hal akan sangat menguntungkan. Namun yang menjadi kendala tidak bisa banyak tahu tentang banyak hal. Akhirnya pilihannya menjadi sedikit tahu akan banyak hal, inilah tipe generalis.

Kelemahan dari tipe generalis, karena hanya memahami kulitnya, ketika diminta menyelesaikan persoalan dia mengalami kesulitan. Alhasil dia tidak dipandang sebagai ahli dan tidak banyak digunakan orang keahliannya.

Bagi orang yang seperti ini dia kadang kesulitan memetakan cara “menjual” dirinya.

Di sisi lain, ada yang ingin fokus pada 1 bidang, menjadi banyak tahu pada 1 bidang. Sehingga, dia dinilai sebagai expert di bidang tsb. Banyak persoalan di bidang tsb yang sanggup diselesaikannya dengan detail.

Dengan kekhususannya di bidang tertentu, sangat mudah baginya untuk “menjual” keahliannya. Bahkan untuk urusan branding, tak sulit bagi orang seperti ini, karenanya tipe ini disebut “Spesialis”.

Namun tidak luput dari persoalan juga tipe spesialis ini. Ketika industri yang berkaitan dengan bidangnya mengalami penurunan, maka imbasnya, dia akan sulit mendapatkan market, industri lesu. Lantas beberapa dari mereka berubah menjadi generalis sebagai strategi untuk “survive”.

Sebagai contoh, beberapa konsultan di bidang pertambangan sangat terkena dampak lesunya industri batubara, yang satu dan lain hal faktor regulasi.

Lalu bagaimana sebaiknya?

Disinilah kejelian dan kecermatan entrepreneur diuji. Dia harus bisa melihat jauh ke depan, industri yang akan sunrise atau sunset. Jadi bukan semata-mata berbekal idealis semata. Memahami apa yang dibutuhkan atau menciptakan kebutuhan itu.

Apa yang harus dilakukan? Carilah data pendukung, pelajari pergerakan dam dinamika bisnis. Itulah kenapa, membaca harus jadi kebutuhan setiap entrepreneur. A leader is a reader. Dengan berbekal data yang ada, anda bisa menentukan akan menjadi spesialis di bidang apa.

Menarik yang dikatakan Jim Collins dalam buku Good to Great. Dia katakan, salah satu kunci sukses perusahaan Good to Great adalah menerapkan “jurus Landak”. Ya, Landak hanya punya 1 jurus ketika dia terdesak, bersembunyi di balik durinya dan menyerang dengan durinya.

Point nya, menjadi spesialis yg ahli 1 jurus, namun master di bidangnya. Sehingga semua orang akan ingat padanya saat membutuhkan keahlian yang dimilikinya.

Tapi si Generalis kadang tidak kehabisan akal, dia bisa mengubah hal general menjadi spesialisasinya, hehehe.

Saya beberapa kali menemui yang seperti ini. Dan dengan resep yang tepat, dia bisa membranding dirinya sebagai spesialis di bidang generalis 🙂

Nah, kembali kepada pilihan anda ingin memilih yang mana. Pilihan ini akan menjadi bekal dalam menyusun action plan, strategi branding dan marketing. Semoga sukses penuh keberkahan.

Bimo Prasetio
@Bprasetio Owner Smart Legal Network

foto: Bplawyers dot co dot id

(Visited 300 times, 1 visits today)

25 thoughts on “Bimo Prasetio – Spesialis atau Generalis ?”

  1. sebagai seorang entrepreneur penting untuk menguasai semua bidang tapi bisa mendelegasikan ke orang yg bisa spesialis mengerjakan per bidangnya. artikel yg bermanfaat. terima kasih

  2. membaca harus jadi kebutuhan setiap entrepreneur.
    Point yang ini bener banget pak diera yanv sekarang ilmu harus di upgrade setiap hari agar tak tertinggal

  3. “dia bisa mengubah hal general menjadi spesialis”,
    ini yang sering terjadi dalam perjalanan hidup, walau harus meraba sesuatu hal yang baru dan tidak tahu, tp terasa nikmat bila akhirnya bisa terurai dan diselesaikan…
    salam dari Advokat Tasikmalaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *